Bukan Cuma Angka – Mengapa Literasi Data Penting Bagi Semua Mahasiswa UBSI?
Di era digital yang serba cepat, prestasi akademik saja tidak cukup untuk menghadapi tantangan zaman. Mahasiswa kini harus memiliki literasi data sejak awal agar bisa bersaing dan menyesuaikan diri...
Di era digital yang serba cepat, prestasi akademik saja tidak cukup untuk menghadapi tantangan zaman. Mahasiswa kini harus memiliki literasi data sejak awal agar bisa bersaing dan menyesuaikan diri dengan dunia kerja yang semakin bergantung pada teknologi dan informasi. Bagi mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), kemampuan mengelola data jadi kompetensi penting yang mendukung kualitas akademik hingga kesiapan memasuki karier.
Arus informasi yang deras membuat data berperan sebagai “bahasa baru” di hampir semua bidang kehidupan. Mulai dari menyusun tugas kuliah, penelitian, kegiatan organisasi mahasiswa, hingga pengambilan keputusan di dunia profesional – semuanya tidak lepas dari data. Mahasiswa yang bisa membaca, mengolah, dan menyajikan data dengan baik akan mendapatkan keunggulan dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan opini belaka.
Masih banyak yang menganggap bahwa pengelolaan data hanya relevan untuk mahasiswa Informatika atau Sistem Informasi. Padahal, hampir semua program studi di UBSI memerlukan keterampilan ini dengan konteks yang berbeda-beda.

Literasi data jadi fondasi penting agar mahasiswa mampu memahami permasalahan secara lebih objektif dan bisa diukur. Contohnya, mahasiswa Manajemen memanfaatkan data untuk membaca tren pasar, menganalisis perilaku konsumen, hingga mengevaluasi kinerja bisnis.
Sementara itu, mahasiswa Akuntansi menjadikan data sebagai dasar utama dalam menyusun laporan keuangan, audit, dan analisis anggaran. Sedangkan mahasiswa Ilmu Komunikasi menggunakan data media sosial untuk memahami audiens dan menyusun strategi konten digital yang efektif. Bagi mahasiswa Informatika dan Teknologi Informasi, data menjadi inti dalam pengembangan sistem, pemrograman, kecerdasan buatan, hingga keamanan jaringan.
Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan mengelola data bukan milik satu jurusan saja, melainkan keterampilan lintas disiplin yang menentukan kualitas lulusan di era digital. Lebih dari sekadar mengolah angka, literasi data juga melatih pola pikir kritis mahasiswa. Dengan data, mahasiswa belajar membedakan fakta dan opini, menilai kredibilitas sumber informasi, serta menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang bisa dipertanggungjawabkan.
Kemampuan ini sangat penting di tengah maraknya hoaks dan informasi salah di ruang digital. Pembelajaran literasi data sebaiknya dimulai sejak dini karena merupakan kompetensi untuk jangka panjang. Mahasiswa bisa memulainya dari hal dasar, seperti memahami statistik sederhana, membaca grafik, hingga menggunakan berbagai alat pengolahan data seperti Microsoft Excel, Google Data Studio, atau SPSS.
Proses ini akan membentuk kebiasaan berpikir yang sistematis dan analitis. Sebagai kampus berbasis teknologi, UBSI memiliki ekosistem pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk berinteraksi dengan data setiap hari. Mulai dari sistem e-learning, tugas riset, hingga kegiatan kemahasiswaan – semuanya mengharuskan mahasiswa mampu mengelola dan menyajikan informasi secara akurat dan logis.
Pada akhirnya, literasi data jadi investasi penting bagi mahasiswa UBSI dalam menghadapi masa depan digital. Mahasiswa yang bisa mendukung argumen dengan data valid, analisis yang rasional, dan informasi terpercaya tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga berpotensi jadi agen perubahan yang cerdas dan memiliki integritas di era digital.
Penulis: Nabila Rahma Hidayat
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!