Pengembangan Diri sebagai Kunci Kesiapan Mahasiswa Analisis Kimia di Dunia Kerja
Pengembangan diri adalah salah satu elemen krusial dalam perjalanan studi seorang mahasiswa. Aspek ini tidak hanya terbatas pada prestasi akademik yang diraih di kelas maupun laboratorium, melainkan...
Pengembangan diri adalah salah satu elemen krusial dalam perjalanan studi seorang mahasiswa. Aspek ini tidak hanya terbatas pada prestasi akademik yang diraih di kelas maupun laboratorium, melainkan juga mencakup kemampuan berkomunikasi, keterampilan bersosialisasi, kemampuan mengatur diri, serta kesiapan untuk menghadapi dunia kerja.
Bagi mahasiswa semester ketujuh Program Studi Analisis Kimia, proses pengembangan diri tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui berbagai pengalaman yang diperoleh baik di dalam maupun di luar lingkungan kampus. Selama masa studi, minat untuk menjalin komunikasi dengan berbagai pihak menjadi salah satu cara untuk memperdalam pemahaman terhadap ilmu analisis kimia sekaligus membuka peluang dalam memperluas hubungan baik di bidang akademik maupun profesional.
Keterampilan komunikasi yang diasah di lingkungan kampus berkontribusi pada peningkatan rasa percaya diri saat berdiskusi, bertukar ide, dan membangun jejaring profesional. Pemanfaatan platform digital seperti LinkedIn juga menjadi sarana pengembangan diri untuk memperluas jaringan hubungan, mempelajari bagaimana membangun citra diri (personal branding), serta memahami peluang karir di bidang kimia.
Kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran tambahan di luar mata kuliah resmi yang sangat relevan dengan persiapan menghadapi dunia kerja. Baiti (2017) menegaskan bahwa mahasiswa tingkat akhir perlu memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas agar mampu bersaing dengan lulusan dari program studi lain, sementara Gunawan (2020) menyatakan bahwa kesiapan untuk bekerja harus dipersiapkan jauh sebelum kelulusan agar dapat menghadapi kompetisi di pasar tenaga kerja.

Selain aspek komunikasi, pengembangan diri juga didukung oleh aktivitas olahraga yang tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, tetapi juga melatih kedisiplinan, konsistensi, serta daya tahan tubuh dan pikiran. Kebiasaan berolahraga membantu mahasiswa mengatur waktu dengan lebih efisien serta menjaga konsentrasi ketika melakukan aktivitas di laboratorium yang membutuhkan tingkat ketelitian yang tinggi.
Dengan demikian, olahraga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pengembangan diri yang mendukung kesiapan fisik dan mental dalam menjalani studi serta kegiatan praktik kerja. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Februari 2020, jumlah pengangguran meningkat sebanyak 60 ribu orang sehingga Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai angka 4,99% (Fatimah et al. 2022).
Kondisi ini semakin menegaskan pentingnya kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja. Praktik Kerja Lapangan (PKL) di perusahaan multinasional bidang farmasi, khususnya di departemen Pengendalian Kualitas (Quality Control/QC), menjadi salah satu pengalaman yang sangat berarti. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mempelajari bagaimana proses analisis obat dan vitamin dilakukan sesuai dengan standar mutu yang berlaku, serta memahami sistem kerja di industri farmasi.
Pengalaman ini memungkinkan terjalinnya hubungan antara teori yang dipelajari di kampus dengan penerapan praktis di industri, sekaligus memberikan pemahaman mengenai pentingnya peraturan, standar kualitas, serta kerja sama tim dalam menjamin keamanan dan efektivitas produk farmasi. Commonwealth Work Readiness Skills (Makki et al. 2015) mengelompokkan faktor-faktor yang memengaruhi kesiapan kerja menjadi tiga kategori utama, yaitu kualitas pribadi dan keterampilan sosial, pengetahuan serta keterampilan profesional, dan pengetahuan serta keterampilan teknologi.
Kualitas pribadi dan keterampilan sosial mencakup sikap kerja yang positif, integritas, kemampuan bekerja sama dalam tim, kemampuan mempresentasikan diri, kesadaran akan keragaman, serta kreativitas dalam menyelesaikan masalah. Pengetahuan dan keterampilan profesional mencakup kemampuan komunikasi baik secara lisan maupun tulisan, berpikir kritis, pemahaman mengenai keselamatan dan kesehatan kerja, pemahaman terhadap sistem organisasi, serta komitmen terhadap pembelajaran sepanjang hayat. Sementara itu, keterampilan teknologi mencakup penguasaan teknologi yang relevan dengan bidang kerja, pemanfaatan teknologi informasi, sistem keamanan, hingga kemampuan dalam bidang telekomunikasi.
Secara keseluruhan, proses pengembangan diri mahasiswa Analisis Kimia dapat dilihat melalui berbagai dimensi, mulai dari penguatan kemampuan komunikasi, perluasan jejaring hubungan, pembentukan kedisiplinan melalui olahraga, hingga penerapan ilmu pengetahuan di dunia industri. Setiap pengalaman yang diperoleh menjadi bekal berharga untuk menghadapi tantangan karir di masa depan, khususnya di bidang analisis kimia. Pengembangan diri adalah perjalanan yang berkelanjutan yang secara konsisten membentuk kesiapan mahasiswa sebagai calon profesional yang siap berkontribusi di dunia kerja.
Penulis: Nabila Rahma Hidayat