Cukup Rekam Batuk, Alat Ciptaan Mahasiswa ITS Ini Bisa Deteksi TBC
Tingginya angka penderita tuberkulosis (TBC) di Indonesia mendorong Tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan inovasi alat deteksi TBC berbasis kecerdasan buatan...
Tingginya angka penderita tuberkulosis (TBC) di Indonesia mendorong Tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan inovasi alat deteksi TBC berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan Deep Learning. Alat yang diberi nama TBCare ini mampu melakukan pra-skrining TBC hanya melalui rekaman suara batuk pasien.
Ketua tim pengembang, Nathania Cahya Romadhona, menjelaskan bahwa batuk kronis yang berlangsung lebih dari dua hingga tiga minggu merupakan salah satu gejala utama TBC. Berdasarkan kondisi tersebut, tim memilih pendekatan skrining berbasis suara batuk sebagai solusi medis yang lebih hemat biaya, non-invasif, serta mudah diakses oleh masyarakat luas, khususnya di daerah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan.

Dalam pengembangannya, TBCare memanfaatkan teknologi Deep Learning dengan mengombinasikan beberapa model analisis suara. Sistem ini menggunakan YAMNet untuk melakukan validasi suara batuk, kemudian mengekstraksi fitur suara melalui metode Mel-Frequency Cepstral Coefficients (MFCC) yang selanjutnya diproses menggunakan model Long Short-Term Memory (LSTM). Pendekatan tersebut memungkinkan sistem membedakan karakteristik batuk penderita TBC dan non-TBC dalam berbagai kondisi lingkungan.
Selain berbasis AI, TBCare juga dilengkapi dengan perangkat perekam suara terintegrasi Internet of Things (IoT). Perangkat ini memungkinkan data hasil rekaman batuk terhubung langsung ke basis data rumah sakit atau fasilitas layanan kesehatan. Dengan demikian, TBCare dapat digunakan sebagai alat pra-skrining TBC yang bersifat portabel dan praktis, khususnya oleh kader kesehatan di berbagai wilayah.
Inovasi ini telah melalui uji validasi medis dengan tingkat sensitivitas mencapai 76 persen, menggunakan data primer dari 17 pasien di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA). Hasil tersebut menunjukkan potensi TBCare sebagai alat bantu skrining awal sebelum pemeriksaan lanjutan secara klinis.
Atas inovasi yang dikembangkan, tim mahasiswa ITS berhasil meraih Medali Emas Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2025 pada kategori Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC). Saat ini, TBCare telah mencapai Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) level 6, menandakan kesiapan untuk pengujian lanjutan dalam lingkungan yang lebih luas.
Nathania berharap, TBCare dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung upaya pemerintah Indonesia menuju eliminasi TBC pada tahun 2030, khususnya melalui peningkatan akses skrining awal yang cepat, murah, dan mudah dijangkau masyarakat.