Literasi Teknologi di Indonesia: Menyeberangi Tantangan Menuju Era Multiliterasi
Di Indonesia, literasi teknologi dalam sektor pendidikan sedang mengalami perubahan mendasar seiring dengan percepatan program digitalisasi yang digalakkan pemerintah. Langkah-langkah seperti...
Di Indonesia, literasi teknologi dalam sektor pendidikan sedang mengalami perubahan mendasar seiring dengan percepatan program digitalisasi yang digalakkan pemerintah. Langkah-langkah seperti penggunaan papan interaktif, peningkatan kompetensi digital, serta pengenalan mata pelajaran informatika menjadi bukti komitmen negara dalam membentuk generasi yang mampu berpikir kritis dan adaptif.
Table Of Content
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan kebijakan dan praktik pembelajaran sehari-hari. Pemanfaatan teknologi sering kali masih dilakukan secara sederhana, misalnya melalui penggunaan Canva untuk materi visual atau penyusunan kuis digital.
Meskipun tidak kompleks, pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan semangat belajar. Peserta didik yang awalnya pasif menjadi lebih antusias, sehingga materi pelajaran terasa lebih relevan dengan kehidupan mereka.
Hambatan dari Infrastruktur dan Kompetensi Pendidik
Di balik peluang inovasi, transformasi digital pendidikan masih menghadapi hambatan serius dari tiga aspek kesenjangan utama. Kendala pertama adalah belum meratanya akses perangkat teknologi dan jaringan internet yang stabil bagi seluruh peserta didik di berbagai daerah.
Selain itu, kompetensi pendidik juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak guru masih merasa kurang percaya diri dalam memanfaatkan teknologi karena terbatasnya kesempatan mengikuti pelatihan yang berkelanjutan.
Penerapan teknologi pun kerap dilakukan secara sporadis dan belum terintegrasi dengan sistem evaluasi kurikulum utama. Kondisi ini mencerminkan kesenjangan digital yang nyata dan berpotensi memperlebar ketidaksetaraan sosial jika tidak segera ditangani.
Pentingnya Multiliterasi dalam Perubahan Pendidikan
Tantangan tersebut berkaitan erat dengan konsep Pendidikan Multiliterasi. Konsep ini menuntut penguasaan kemampuan yang lebih luas dari sekadar membaca dan menulis, termasuk literasi visual, digital, informasi, serta kemampuan berkolaborasi secara daring.
Di tengah arus informasi yang masif dan rentan disusupi disinformasi, kemampuan memverifikasi data dan berpikir kritis menjadi keterampilan esensial bagi peserta didik.
Seperti dikemukakan Sudirman dan Mahfuzi, teknologi dalam pendidikan seharusnya menjadi alat untuk memperkuat daya pikir dan kreativitas siswa, bukan sekadar tujuan akhir kebijakan pengadaan perangkat.
Digitalisasi pendidikan hanya akan berjalan optimal jika diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia yang mampu menggunakan teknologi secara kritis dan reflektif.
Pendidik dituntut menyelaraskan inovasi digital dengan pendekatan yang humanis dan personal. Interaksi sosial serta hubungan emosional guru dan siswa harus tetap menjadi inti dari proses pembelajaran.
Pembelajaran juga tidak boleh kehilangan nilai kearifan lokal hanya karena mengikuti tren teknologi global. Multiliterasi menjadi jembatan agar teknologi tetap berlandaskan nilai kemanusiaan dalam proses transfer pengetahuan.
Strategi Kolaboratif untuk Masa Depan Pendidikan Digital
Untuk mewujudkan sistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan, dibutuhkan kolaborasi melalui model pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, sektor swasta, komunitas, dan media.
Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur pendidikan yang luas. Dukungan sektor swasta, seperti penyediaan akses internet terjangkau, serta kontribusi akademisi dalam pengembangan modul literasi yang aplikatif, menjadi kunci penting.
Kolaborasi lintas sektor ini memastikan bahwa transformasi digital menjadi gerakan bersama, bukan beban satu pihak saja.
Langkah strategis yang perlu segera dilakukan adalah merancang pelatihan guru berbasis Project Based Learning. Pelatihan tidak lagi bersifat teoritis dan satu arah, tetapi mendorong guru menciptakan solusi digital untuk permasalahan nyata di kelas.
Selain itu, kebijakan infrastruktur hibrida yang mengombinasikan akses daring dan konten luring menjadi solusi penting bagi daerah dengan keterbatasan jaringan internet. Dengan pendekatan ini, kualitas pendidikan tidak lagi ditentukan oleh letak geografis.
Keberhasilan transformasi pendidikan tidak semestinya diukur hanya dari jumlah perangkat yang didistribusikan. Indikator perlu bergeser pada kualitas hasil, yakni sejauh mana kemampuan berpikir kritis digital peserta didik meningkat.
Masa depan pendidikan Indonesia ditentukan oleh kesiapan kolektif untuk menerapkan pendekatan multiliterasi yang komprehensif—sebuah perubahan yang tidak hanya mengagungkan teknologi, tetapi juga menyatukannya dengan kreativitas dan nilai-nilai kemanusiaan demi kemajuan bangsa.