Nilai TKA SMA Jeblok, Mendikti Bakal Evaluasi Kampus Keguruan
Foto CNN Indonesia
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto akan mengevaluasi perguruan tinggi setelah mayoritas hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa sekolah menengah atas (SMA) menunjukkan capaian rendah. Menurut Brian, kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah.
Ia menekankan bahwa kualitas pembelajaran sangat bergantung pada mutu sumber daya pengajar. Sementara itu, sebagian besar guru di Indonesia merupakan lulusan perguruan tinggi.
“Sebagian guru kita itu kan berasal dari perguruan tinggi perguruan. Ini yang akan kita coba lihat. Akan kita evaluasi apa yang harus lebih didorong,” kata Brian saat ditemui di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Jakarta pada Rabu, 24 Desember 2025.
Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut menilai hasil TKA 2025 juga menjadi sinyal bahwa peningkatan kualitas pendidikan Indonesia di bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM) masih perlu digenjot secara serius. Namun, ia menegaskan bahwa rendahnya kemampuan siswa di bidang STEM bukan hanya terjadi di Indonesia.
“Ini fenomena global,” kata dia. “Artinya STEM yang dilihat sulit, itu membuat orang atau adik-adik kita yang sekarang itu lebih memilih yang non-stem.”
Berdasarkan hasil TKA 2025 yang digelar pada November lalu, rerata nilai siswa SMA tercatat masih rendah. Untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, skor rata-rata mencapai 57,39. Sementara itu, matematika hanya mencatatkan rerata 37,23 dan bahasa Inggris 26,71 dari skala maksimal 100.
Kondisi serupa juga terlihat pada jenjang SMK. Rata-rata nilai bahasa Indonesia berada di angka 53,62, matematika 34,74, dan bahasa Inggris 22,55.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Rahmawati, menjelaskan bahwa rendahnya capaian tersebut dipengaruhi oleh karakteristik soal TKA yang lebih menekankan aspek penalaran dan naratif.
Menurut dia, soal matematika dalam TKA 2025 tergolong kompleks karena menuntut siswa mampu mengaitkan data dengan berbagai ketentuan yang tersirat dalam soal.
“Ketentuan itu berupa kalimat-kalimat sederhana ini cukup banyak yang missing, sehingga, kebanyakan siswa luput dari clue yang atau ketentuan yang disisipkan dalam soal,” ujar dia dalam Taklimat Media TKS 2025, Senin, 22 Desember 2025.
Rahmawati berharap hasil TKA 2025 dapat menjadi bahan refleksi bagi pemerintah dalam melakukan pembenahan kebijakan pendidikan. Ia juga mendorong sekolah-sekolah untuk saling berbagi praktik baik dalam metode pembelajaran guna meningkatkan kemampuan akademik siswa ke depan.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berharap upaya perbaikan yang dilakukan secara kolaboratif tersebut dapat mendorong peningkatan hasil TKA pada tahun-tahun mendatang, khususnya dalam mata pelajaran yang selama ini dianggap sulit oleh siswa.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!