Krisis Air Bersih, Peneliti Unnes Ciptakan Mesin yang Bisa Mengubah Udara Menjadi Air Minum
Kelangkaan air bersih menjadi persoalan serius ketika musim kemarau melanda berbagai wilayah di Indonesia. Untuk menjawab tantangan tersebut, peneliti dari Universitas Negeri Semarang (Unnes)...
Kelangkaan air bersih menjadi persoalan serius ketika musim kemarau melanda berbagai wilayah di Indonesia. Untuk menjawab tantangan tersebut, peneliti dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengembangkan teknologi yang mampu menghasilkan air bersih langsung dari udara.
Table Of Content
Peneliti tersebut adalah Prof Samsudin Anis, ST, MT, PhD. Ia mengembangkan alat bernama Atmospheric Water Maker (AWM), sebuah mesin yang mampu mengubah udara menjadi air. Teknologi ini memanfaatkan kelembapan udara yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber air alternatif.
Prof Anis memandang bahwa kelembapan udara memiliki potensi yang sangat besar. Di atmosfer bumi diperkirakan terdapat sekitar 13.000 km³ air yang tersimpan dalam bentuk uap air. Dengan bantuan teknologi seperti AWM, potensi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baru, terutama di wilayah yang mengalami kekeringan atau keterbatasan sumber air.
Cara Kerja Atmospheric Water Maker
Prof Anis menjelaskan bahwa teknologi AWM bekerja menggunakan prinsip kondensasi udara lembap. Proses ini dilakukan dengan cara menghisap udara yang mengandung uap air, lalu mendinginkannya hingga berada di bawah titik embun sehingga uap air berubah menjadi cairan.
Setelah itu, air yang dihasilkan akan dikoleksi dan disucikan melalui proses filtrasi sehingga layak dikonsumsi.
“Keunggulan teknologi ini: bekerja paling optimal di kondisi panas dan lembap, sebab kadar uap air serta titik embun yang mendekati suhu udara memudahkan proses kondensasi,” terangnya, dikutip dari laman Unnes, Selasa (10/3/2026).
Secara teknis, alat ini terdiri dari beberapa komponen utama yang bekerja secara terintegrasi, yaitu:
- Sistem pendingin (cycle vapor-compression refrigeration)
- Coil dingin untuk proses kondensasi
- Kipas hisap udara
- Tangki koleksi air
- Unit filtrasi udara dan air
Dalam prosesnya, kualitas air yang dihasilkan sangat bergantung pada performa setiap komponen tersebut, terutama pada sistem filtrasi yang memastikan air hasil kondensasi aman untuk diminum.

Tahapan Pengembangan Teknologi
Teknologi AWM yang dikembangkan oleh Prof Anis tidak hadir secara instan, melainkan melalui serangkaian tahapan riset dan pengembangan sejak beberapa tahun terakhir.
“Teknologi AWM telah melalui peta jalan pengembangan: Proto-1 (2019) riset dasar; Proto-2 (2021) pengujian performa; Proto-3 (2022) uji produksi air & kualitas; dan sejak 2023 mulai pemasyarakatan dan aplikasi lapangan,” kata Prof Anis dalam “Simposium Air” yang diselenggarakan di FISIP Unnes, Oktober 2025 lalu.
Selain untuk kebutuhan masyarakat umum, mesin ini juga berpotensi dimanfaatkan dalam sektor medis. Fasilitas layanan kesehatan seperti rumah sakit dapat menggunakan air hasil kondensasi sebagai media terapi atau kebutuhan tertentu dalam pelayanan kesehatan.
Inovasi Penyedia Air di Tengah Krisis
Prof Anis menilai teknologi AWM akan sangat relevan digunakan di wilayah yang rentan mengalami kekeringan, terutama di Pulau Jawa. Kondisi krisis air diperkirakan akan semakin meningkat dalam beberapa dekade mendatang.
Diperkirakan pada tahun 2040, ketersediaan air di Jawa hanya sekitar 476 m³ per orang per tahun, turun jauh dibandingkan kondisi saat ini yang masih berada di angka sekitar 1.169 m³ per orang per tahun.
Menurutnya, penerapan AWM dapat berkontribusi pada beberapa target Sustainable Development Goals (SDG) khususnya SDG 6, yaitu menjamin ketersediaan dan pengelolaan air bersih yang berkelanjutan.
Teknologi ini dinilai mampu:
- Menyediakan sumber air baru di wilayah kering atau tercemar
- Menjadi alternatif berkelanjutan terhadap sumber air konvensional yang semakin menipis
- Menjamin ketersediaan air minum yang andal dalam situasi darurat atau gangguan pasokan air
Sementara itu, Pakar Geografi Fisik Unnes, Prof Dewi Liesnoor Setyowati, menekankan bahwa inovasi teknologi harus berjalan beriringan dengan upaya konservasi air.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan air secara berkelanjutan menjadi hal yang sangat penting di tengah perubahan iklim global.
“Sains dan masyarakat harus menjadi kunci dalam menghadapi dampak pemanasan global, perubahan pola hujan, dan risiko kekeringan ekstrem akibat El Niño maupun La Niña.”
Ia menegaskan bahwa teknologi seperti AWM tidak hanya berperan sebagai inovasi ilmiah, tetapi juga bagian dari strategi ketahanan nasional dalam menghadapi krisis air di masa depan.
“Teknologi seperti AWM dan sistem konservasi air pintar bukan hanya alat ilmiah, tetapi bagian dari strategi ketahanan nasional menghadapi krisis air,” tutur Prof Dewi.