Kerja Sebagai Ojek Online, Kenzo lulus S1 dan S2 Hingga Jadi Wisudawan Terbaik Di Kampus Negeri
Prosesi wisuda selalu menjadi momen yang mengharukan bagi setiap wisudawan. Bagi sebagian orang, perjalanan menuju kelulusan tidaklah mudah, terutama ketika harus membagi waktu antara kuliah dan...
Prosesi wisuda selalu menjadi momen yang mengharukan bagi setiap wisudawan. Bagi sebagian orang, perjalanan menuju kelulusan tidaklah mudah, terutama ketika harus membagi waktu antara kuliah dan mencari penghidupan. Hal itulah yang dialami oleh Muhammad Kanzul Fikri, lulusan Magister Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Walisongo Semarang.
Table Of Content
Pria yang akrab disapa Kenzo ini diwisuda bersama 1.277 wisudawan lainnya pada Februari lalu. Ia berhasil menyelesaikan studi magisternya hanya dalam waktu 3 semester. Tak hanya lulus cepat, Kenzo juga dinobatkan sebagai wisudawan terbaik.
Baca juga: Mahasiswa UGM Kembangkan AI Kesehatan Mental, Raih Juara Dunia dengan Hadiah Rp4 Miliar
Perjuangan Kuliah Sambil Menjadi Driver Ojol
Perjalanan akademik Kenzo tidak semulus kebanyakan mahasiswa. Sejak jenjang S1, ia harus membagi waktu antara belajar dan bekerja demi membiayai kuliahnya. Ia bekerja sebagai driver ojek online (ojol).
Kenzo berasal dari keluarga sederhana di pinggiran Rawa Pening, Banyubiru, Semarang. Ayahnya bekerja sebagai driver ojol, sementara ibunya yang telah wafat pada 2022, merupakan guru honorer RA.
“Bapak dan Ibu selalu berpesan bahwa mereka tidak bisa mewariskan harta, hanya ilmu yang bisa diwariskan. Gelar ini adalah kado untuk mereka,” kenangnya.
Tangis Haru Saat Dinyatakan Wisudawan Terbaik
Momen paling mengharukan dalam perjalanan Kenzo terjadi saat ia menerima pesan dari Ketua Program Studi melalui WhatsApp. Pesan tersebut berisi kabar bahwa dirinya dinobatkan sebagai wisudawan terbaik.
Saat itu, ia tengah dalam perjalanan pulang menggunakan sepeda motor.
“Sepanjang perjalanan saya benar-benar menangis. Saya teringat liku-liku kuliah S2 yang penuh plot twist selama tiga semester ini. Awalnya target saya sederhana, hanya ingin segera lulus agar tidak membayar UKT lagi, tapi Allah justru memberi hadiah luar biasa ini,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Strategi Belajar di Tengah Keterbatasan Waktu
Sebagai driver ojol aktif, Kenzo mengaku tidak memiliki waktu khusus untuk belajar. Ia memanfaatkan waktu malam hari setelah bekerja untuk mengerjakan tugas kuliah.
“Saya ini tipe deadliner tangguh. Ada sensasi berbeda yang membuat ide lancar saat mepet waktu,” ungkapnya.
Meski sibuk, ia tetap memegang prinsip hidup yang kuat, terutama dalam hal ibadah.
“Prinsip saya ibadah nomor satu. Kalau kita mengejar akhirat, insyaallah dunia mengikuti. Di sela menarik ojek atau nugas, shalat tepat waktu tetap saya usahakan,” ujarnya mantap.
Tesis Angkat Tradisi Lokal di Era Digital
Sebagai wisudawan terbaik, Kenzo juga menulis tesis yang menarik. Penelitiannya berjudul “Tradisi Sedekah Rawa Pening di Era Digital”.
Dalam tesis tersebut, ia mengkaji bagaimana masyarakat Desa Rowoboni mempertahankan nilai religius dan ekologis di tengah arus digitalisasi.
“Temuan menariknya adalah tradisi lokal ini tidak mati, melainkan bertransformasi menjadi lebih religius dan rasional berkat peran generasi muda yang memanfaatkan media digital sebagai ruang pelestarian baru,” jelas Kenzo.
Harapan Melanjutkan Studi dan Karier Profesional
Setelah menyandang gelar magister, Kenzo tidak berhenti bermimpi. Ia berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral (S3) jika mendapatkan kesempatan beasiswa.
Selain itu, ia juga tengah mempersiapkan diri untuk terjun ke dunia kerja profesional di bidang komunikasi.
Perjalanan hidup Kenzo menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Dengan kerja keras, ketekunan, dan prinsip hidup yang kuat, ia mampu membalikkan keadaan dan menginspirasi banyak orang.