Harumkan Indonesia, PROBAPLAS Hadirkan Inovasi Kaki Palsu dari Limbah Plastik Hingga Juara Internasional di Turki
Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Muhammad Alhafiz Arya Wardhana dari Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), berhasil meraih prestasi sebagai 3rd Winner dalam ajang...
Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Muhammad Alhafiz Arya Wardhana dari Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), berhasil meraih prestasi sebagai 3rd Winner dalam ajang International Project Innovation Competition yang diselenggarakan di Istanbul, Turki, pada Jumat (13/2/2026).
Kompetisi bertajuk International Project Innovation Competition ini merupakan ajang inovasi tingkat internasional yang mempertemukan peserta dari berbagai negara untuk mempresentasikan proyek solusi terhadap berbagai permasalahan global. Dalam kompetisi tersebut, Arya berkolaborasi dengan Malikha Haula Karimah dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung serta Khikmatillo Nematov dari Uzbekistan.
Tim ini berhasil membawa inovasi bernama PROBAPLAS ke kancah internasional. PROBAPLAS merupakan singkatan dari Prosthetic from Plastic Waste yang berfokus pada pemanfaatan limbah plastik sebagai solusi inovatif di bidang kesehatan dan lingkungan.
“PROBAPLAS (Prosthetic from Plastic Waste) merupakan sebuah inovasi yang berfokus pada pemanfaatan limbah HDPE (High-Density Polyethylene) seperti tutup botol dan jerigen bekas sebagai bahan baku pembuatan socket prostetik sebagai komponen utama prostetik,” jelas Arya.
Inovasi ini pertama kali digagas oleh Unit Kegiatan Mahasiswa PUSTENA (Pusat Teknologi Tepat Guna) yang berada di bawah naungan Rumah Salman Institut Teknologi Bandung. Gagasan tersebut lahir dari dua permasalahan utama yang saling berkaitan.

Pertama, terbatasnya akses alat bantu prostetik bagi penyandang disabilitas akibat harga yang relatif mahal serta ketergantungan pada bahan baku impor. Kedua, melimpahnya limbah plastik HDPE yang sulit terurai dan berpotensi mencemari lingkungan.
“Berdasarkan hasil riset Malikha (salah satu anggota) HDPE daur ulang yang digunakan memenuhi standar minimum material prostetik yakni berkekuatan tarik 26-33 Mpa. Kemudian, penggunaan material daur ulang mampu menurunkan biaya bahan baku menjadi 2 dolar/unit atau Rp. 35 ribu. Sehingga, inovasi kami berhasil menjawab dua masalah besar sekaligus,” tutur Arya.
Melihat dampak positif dari inovasi tersebut, tim juga mengembangkan pendekatan berbasis teknologi melalui pembuatan website terintegrasi dengan sistem gamifikasi serta program sosial bernama Eco Hero. Program ini dirancang untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan limbah sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular.
Melalui sistem ini, masyarakat dapat menyetor limbah plastik HDPE ke unit bank sampah digital dan memperoleh poin yang tercatat secara digital. Poin tersebut kemudian dapat dikonversikan menjadi nilai ekonomi, sehingga memberikan insentif bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
“Hal terpenting, proyek ini tidak berhenti di tahap riset atau kompetisi. Tim mulai mengimplementasikan model produksi prostetik secara langsung melalui kolaborasi bersama mitra prostetik dan komunitas pemberdayaan disabilitas. Beberapa prostetik juga sudah disalurkan kepada pihak yang membutuhkan,” tambahnya.

Dosen pembimbing Arya, Dr. Maurish Sofie Rahmi Batita, S.Pd., M.Ed, turut mengapresiasi inovasi yang dikembangkan oleh tim. Ia menilai bahwa gagasan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut.
” Ide dan prototipe yang Arya dan tim kembangkan bisa menjadi produk unggulan bagi kaum disabilitas, namun juga masih tetap memperhatikan kesadaran lingkungan”, ungkapnya.
Prestasi ini menunjukkan bahwa inovasi mahasiswa Indonesia mampu bersaing di tingkat global sekaligus memberikan solusi nyata bagi permasalahan sosial dan lingkungan.