Banjir bandang yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia tidak hanya dipicu oleh curah hujan tinggi. Fenomena ini juga menjadi sinyal serius bahwa kondisi alam, khususnya ekosistem hutan, sedang mengalami kerusakan yang semakin mengkhawatirkan.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut bahwa banjir bandang yang kerap terjadi merupakan indikator runtuhnya sistem ekologi hutan di sejumlah wilayah. Kerusakan tersebut membuat fungsi alami hutan dalam mengatur air dan menjaga kestabilan tanah semakin melemah.
Peneliti Ahli Utama Konservasi Keanekaragaman Hayati Pusat Riset Ekologi BRIN, Prof Hendra Gunawan, menekankan bahwa fenomena ini harus dilihat sebagai peringatan serius terhadap kondisi lingkungan saat ini.
“Banjir bandang bukan lagi kejadian alam biasa, melainkan sinyal bahwa ekosistem hutan di banyak bentang alam telah berada pada kondisi kritis,” ujar Hendra dikutip dari BRIN, Senin (9/3/2026).
Menurutnya, hujan deras sebenarnya merupakan fenomena yang wajar di wilayah tropis seperti Indonesia. Namun dampaknya bisa menjadi jauh lebih berbahaya ketika kawasan hutan kehilangan banyak tutupan pohon.
Hutan memiliki fungsi penting dalam mengatur tata air, menstabilkan tanah, serta meredam energi hujan. Jika tutupan hutan berkurang, curah hujan yang terjadi dalam waktu singkat dapat berubah menjadi aliran air yang sangat deras.
Akibatnya, air yang mengalir melewati ekosistem hutan yang rusak akan membawa material seperti lumpur, kayu, hingga batu. Kondisi ini berpotensi menghancurkan permukiman masyarakat serta merusak berbagai infrastruktur di wilayah hilir.
Banjir Bandang Bisa Terjadi Berulang
Hendra menjelaskan bahwa kerusakan hutan bukan sekadar berkurangnya jumlah pohon. Kerusakan tersebut juga mencakup sistem air, tanah, tumbuhan, satwa, mikroorganisme, serta iklim mikro yang saling bergantung satu sama lain.
Jika tekanan terhadap ekosistem terus terjadi secara berulang, maka fungsi alami hutan akan semakin melemah. Dampaknya, risiko banjir bandang dapat terjadi secara berulang di wilayah yang sama.
“Air hujan tidak lagi terserap dan tersimpan, melainkan langsung mengalir ke hilir, stabilitas lereng melemah akibat rusaknya sistem perakaran, pengendalian iklim mikro terganggu, dan habitat keanekaragaman hayati menyusut drastis,” jelas Hendra.
Hitung Mundur Keruntuhan Ekosistem
Hendra mengungkapkan bahwa proses runtuhnya ekosistem hutan dalam skala besar sebenarnya terjadi secara bertahap. Sayangnya, perubahan tersebut sering kali luput dari perhatian masyarakat maupun para pengambil kebijakan.
“Perubahan lanskap hutan itu gradual. Awalnya mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya terakumulasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa terdapat lima proses spasial yang dapat mengubah matriks lanskap hutan dan mempercepat kerusakan ekosistem, yaitu:
- Fragmentasi
Fragmentasi terjadi ketika area hutan terpecah menjadi beberapa bagian kecil yang terisolasi. Kondisi ini membuat fungsi ekologis hutan terputus sehingga ruang gerak serta proses berkembang biak satwa menjadi terganggu. - Dissection
Dissection terjadi ketika area hutan dipisahkan oleh jalan raya atau infrastruktur penghubung lainnya. Hal ini menyebabkan lanskap hutan terbelah sehingga fungsi ekologisnya tidak lagi utuh.
“Begitu ada jalan yang membelah, secara ekologis hutan itu sudah tidak lagi utuh. Ia terpisah menjadi dua bagian yang rentan terhadap gangguan antropogenik, efek tepi dan isolasi populasi satwa tertentu,” jelasnya.
- Perforasi
Perforasi merupakan terbentuknya lubang-lubang di dalam kawasan hutan akibat pembukaan lahan atau alih fungsi lahan. - Shrinkage
Shrinkage atau penyusutan terjadi akibat tekanan berulang pada kawasan hutan yang tersisa sehingga luas hutan semakin berkurang. - Attrition
Attrition adalah hilangnya bagian-bagian kecil dari hutan secara bertahap akibat aktivitas perusakan yang berlangsung terus-menerus.
“Proses-proses ini bisa terjadi bersamaan atau bergantian. Karena berjalan perlahan, seringkali kita tidak menyadari bahwa sistemnya sedang menuju titik kritis,” tegas Hendra.
Ia juga menambahkan bahwa perubahan yang terjadi secara masif akan mempercepat ekosistem menuju titik kritis yang semakin sulit dikendalikan. Ketika kondisi tersebut melampaui daya lentingnya, ekosistem berpotensi mengalami kerusakan total.
Menanam Pohon Tidak Otomatis Memulihkan Ekosistem Hutan
Selama ini, hutan sering kali dipahami hanya sebagai kumpulan pohon. Pandangan tersebut kemudian memunculkan solusi singkat berupa penanaman pohon di lahan yang gundul.
Namun menurut Hendra, pendekatan tersebut tidak cukup untuk memulihkan ekosistem hutan secara menyeluruh.
“Menanam pohon tidak otomatis memulihkan ekosistem,” tegas Hendra.
Ia menekankan bahwa penghentian eksploitasi hutan menjadi langkah penting, namun tetap harus disertai dengan pendekatan pemulihan yang lebih komprehensif.
“Penghentian eksploitasi itu penting, tetapi tidak cukup. Ekosistem yang sudah rusak perlu dipulihkan dengan pendekatan terpadu lintas sektor dan berbasis bentang alam,” imbuhnya.
Hendra juga menegaskan bahwa kebijakan pengelolaan hutan memerlukan kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi hingga masyarakat.
Tanpa sinergi yang berkelanjutan, upaya pemulihan ekosistem hutan dikhawatirkan hanya berjalan di tempat dan tidak menyentuh akar permasalahan.
Menurutnya, cara pandang terhadap hutan juga harus diubah. Selama hutan hanya dipandang sebagai sumber daya ekonomi, maka siklus kerusakan dan bencana akan terus berulang.
“Selama hutan dipahami hanya sebagai sumber daya ekonomi, kita akan terus terjebak dalam siklus kerusakan dan bencana,” jelasnya.
Hutan seharusnya dipahami sebagai penopang kehidupan manusia yang harus dijaga keberlanjutannya tanpa merusak keanekaragaman hayati di dalamnya.
“Sudah saatnya kita belajar dari alam, sebelum alarm ekologis ini berubah menjadi keruntuhan yang tidak lagi dapat dipulihkan,” tandasnya.