Bertahun-tahun Jadi Satpam UGM, Teguh Saksikan Anaknya Raih Gelar Doktor di Kampus yang Sama
“Saya percaya ini memang sudah rezeki, semua sudah diatur,” ucap Teguh dalam rilis Humas UGM, 19 April 2018 lalu. Perasaan bangga menggebu-gebu dalam diri Teguh Tuparman ketika anak pertamanya...
“Saya percaya ini memang sudah rezeki, semua sudah diatur,” ucap Teguh dalam rilis Humas UGM, 19 April 2018 lalu. Perasaan bangga menggebu-gebu dalam diri Teguh Tuparman ketika anak pertamanya berhasil menyelesaikan studi doktoral di UGM.
Saat itu, Teguh menghadiri acara di Grha Sabha Pramana dengan mengenakan seragam lengkap dan sepatu bot. Kali ini ia tidak datang untuk berjaga, melainkan untuk menyaksikan putrinya, Retnaningtyas Susanti, wisuda sebagai doktor.
Kenangan tentang kelahiran Tyas masih jelas teringat bagi Teguh. Tahun itu menjadi awal bagi dua perjalanan yang berjalan bersamaan – saat ia memulai pekerjaan di UGM, putri sulungnya juga lahir ke dunia.
Teguh mulai menjalankan tugas sebagai petugas keamanan, sementara Tyas memulai kehidupannya. Mimpi Berkembang Saat Teguh Melakukan PatroliDahulu kala, pada akhir pekan, Teguh sering membawa Tyas yang masih kecil ke kampus dan mengajaknya berkeliling.
Di sinilah muncul keinginannya agar anaknya dapat mengejar pendidikan tinggi. “Kan saya kerja di tempatnya orang-orang pintar, jadi saya ingin juga anak saya nanti bisa jadi seperti orang-orang ini,” katanya.
Komitmen Teguh sangat kuat. Ia berkeinginan agar anaknya dapat melanjutkan studi kuliah meskipun kondisi ekonomi keluarga tidak mudah. Teguh hanya menyelesaikan pendidikan hingga SMP, dan istrinya tidak pernah mendapatkan kesempatan sekolah.
Gajinya sebagai petugas keamanan hanya cukup untuk kebutuhan dasar. Namun ketika Tyas menginginkan masuk Program Studi Antropologi UGM, Teguh tidak menghalanginya. Untuk membiayai studi putrinya, Teguh terpaksa berutang dan melakukan berbagai pengorbanan. “Dulu ya harus korban moril dan materiil, hutang sana sini. Tapi saya yakin kalau uang itu digunakan untuk hal yang baik nanti akan ada penggantinya,” tuturnya.
Benar saja, jika tekad orang tua dan anak sama-sama kuat, mimpi yang tampak jauh akan lebih mudah tercapai. Bukti nyatanya, keempat anak Teguh berhasil melanjutkan studi kuliah meskipun kondisi ekonomi keluarga terbatas. “Dan nyatanya sampai sekarang kami bisa hidup cukup, dan empat anak kami semua kuliah,” tegasnya.
Ketika Ayah Tidak Dapat Lagi Menanggung BiayaTyas menyelesaikan pendidikan S1 dalam waktu 3 tahun 7 bulan. Setelah itu, ia bekerja sebagai peneliti di Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan (PSKK) UGM yang fokus mengkaji isu kependudukan serta kebijakan publik. Dari pengalaman ini, ia membangun impian untuk menjadi dosen.
Tyas kemudian berkeinginan melanjutkan studi S2. Namun, sebagai anak pertama, ia tidak bisa hanya memikirkan diri sendiri karena adik-adiknya masih dalam masa pendidikan. “Waktu saya kuliah S1 Bapak dukung penuh. Meski awalnya saya tidak yakin bisa kuliah, Bapak yakinkan bahwa saya bisa kuliah. Tapi waktu saya mau S2 Bapak tidak bisa membiayai lagi karena adik-adik saya juga masih sekolah semua,” kata Tyas.
Tantangan ini tidak membuat Tyas menyerah. Untuk mewujudkan impiannya, ia memutuskan untuk melanjutkan studi sambil bekerja. “Saya masih ingat dulu sering berjualan salak di depan sini,” ujarnya, menunjuk sisi selatan kampus.
Selain itu, Tyas juga bekerja di warung kopi untuk mencari biaya sendiri. Pada tahun 2011, Tyas menyelesaikan studi S2 bidang pariwisata dan kemudian menjadi dosen di Universitas Andalas. Tahun 2013, Tyas kembali ke Yogyakarta untuk melanjutkan studi S3 dengan mendapatkan beasiswa BPPDN Dikti – beasiswa pendidikan pascasarjana dalam negeri dari pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualifikasi dosen.
Pada tahun 2018, ia resmi memperoleh gelar doktor. “Saya ingin Bapak dan Ibu melihat saya dikukuhkan sebagai guru besar suatu hari kelak,” ucapnya setelah wisuda. Ayah yang Tidak Mau Hanya Mengandalkan Satu PekerjaanKisah Teguh tidak hanya tentang satu anak.
Bersama Sri Retnanik, ia berhasil membesarkan empat putri yang semuanya menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi. Karena gaji sebagai petugas keamanan tidak cukup, Teguh mencari pekerjaan tambahan untuk menunjang pendidikan anak-anaknya.
“Dulu saat anak-anak masih sekolah semua saya menjalani semua pekerjaan, pernah jadi sopir bus kota dan penjaga,” kisahnya. Teguh pernah bekerja sebagai sopir bus kota di Yogyakarta dan juga sebagai penjaga gedung fasilitas kesehatan kampus.
“Saya ingin anak-anak bisa sekolah tinggi, tidak seperti saya yang hanya lulusan SMP,” katanya. Pada tahun 2018, ia menerima penghargaan Keluarga Hebat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI karena dinilai berhasil menjalankan peran keluarga dalam mendidik dan membimbing anak-anak.
“Bangga rasanya, meskipun saya ini orang biasa yang hanya lulusan SMP dan isteri tidak pernah sekolah bisa menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi,” ungkapnya.
Penulis: Nabila Rahma Hidayat