Benarkah Mahasiswa RI Ketagihan AI?
Menurut survei, 95% mahasiswa Indonesia pernah pakai AI.
Kecerdasan artifisial (AI) kian menegaskan perannya sebagai teknologi yang semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Dari meningkatkan produktivitas hingga mempercepat penyelesaian pekerjaan, AI kini menjadi alat bantu yang sulit dipisahkan dari aktivitas manusia. Di Indonesia, tren ini juga terlihat jelas, termasuk di lingkungan perguruan tinggi.
Table Of Content
4 dari 5 Mahasiswa Pakai AI
Hasil Global Student Survey 2025 yang dirilis Chegg menunjukkan bahwa empat dari lima mahasiswa di dunia telah memanfaatkan teknologi generative AI (GenAI) untuk mendukung proses pembelajaran mereka. Hanya sekitar 20% responden global yang mengaku belum pernah menggunakan AI sama sekali. Temuan ini memperlihatkan betapa cepatnya adopsi AI di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa.
95% Mahasiswa Indonesia Pakai AI
Menariknya, Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat penggunaan GenAI tertinggi di antara 15 negara yang disurvei. Sebanyak 95% mahasiswa Indonesia mengaku telah menggunakan AI dalam proses belajar, melampaui rata-rata global. Hanya 4% yang menyatakan tidak menggunakan GenAI, sementara 1% memilih tidak menjawab.
Di Indonesia, pemanfaatan GenAI paling banyak dilakukan untuk membantu tugas akademik (86%). Selain itu, mahasiswa juga memanfaatkannya untuk menyusun rencana pengembangan karier (52%) dan mengatur jadwal pribadi (33%). Malaysia menyusul di posisi kedua dengan tingkat penggunaan 90%, diikuti Arab Saudi (89%), Spanyol (87%), serta sejumlah negara lain seperti Brasil, Korea Selatan, dan India yang berada di kisaran 84%.
Apa Saja Manfaat AI untuk Mahasiswa?
Secara umum, responden global menyebutkan bahwa GenAI membantu mereka belajar lebih cepat (55%), memberi lebih banyak waktu luang (41%), meningkatkan kreativitas (38%), membuat pembelajaran lebih interaktif (37%), hingga menekan biaya tambahan kursus (28%). Namun, di balik manfaat tersebut, muncul dinamika baru di ruang kelas.
Gimana Tanggapan Dosen?
Aliurridha, dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Mataram, menilai penggunaan AI di kalangan mahasiswa cukup masif, terutama dalam tugas kepenulisan dan sastra. Ia memperkirakan hanya sekitar 10–15% mahasiswa yang mengerjakan tugas tanpa ketergantungan signifikan pada AI. Sementara sebagian besar lainnya cenderung menyalin hasil dari AI dengan penyuntingan minimal. ChatGPT disebut menjadi salah satu platform yang paling sering digunakan.
Dari sisi frekuensi, mayoritas mahasiswa Indonesia mengajukan pertanyaan ke GenAI sebanyak dua hingga lima kali per hari, bahkan sebagian lebih dari sepuluh kali. Intensitas ini menunjukkan tingkat ketergantungan yang relatif tinggi terhadap teknologi tersebut.
Dilema penggunaan AI di perguruan tinggi pun mulai dirasakan para pendidik. Candra Kusuma Wardana, dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta, menilai bahwa AI memang dapat mendukung proses pembelajaran, tetapi penggunaannya perlu diatur secara sistematis agar tidak menurunkan kualitas akademik. Ia menekankan pentingnya regulasi yang jelas, kolaborasi antara teknologi dan kebijakan pendidikan, serta pendekatan pengajaran yang inklusif agar AI dimanfaatkan secara proporsional.
Aliurridha juga menyoroti potensi dampak jangka panjang, terutama terhadap kemampuan kognitif mahasiswa. Ketergantungan berlebihan pada AI, menurutnya, berisiko menurunkan daya pikir kritis dan kemampuan analitis.
Survei Chegg sendiri dilakukan secara daring pada 1–23 Oktober 2024, melibatkan 11.706 mahasiswa berusia 18–21 tahun dari 15 negara, dengan jumlah responden tiap negara berkisar antara 500 hingga 1.002 orang. Studi ini bertujuan memetakan tren pendidikan global sekaligus menangkap isu-isu utama yang dihadapi mahasiswa di berbagai negara.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa AI telah menjadi bagian integral dari proses belajar generasi muda, termasuk di Indonesia. Tantangannya kini bukan lagi soal adopsi, melainkan bagaimana memastikan teknologi tersebut digunakan secara bijak tanpa menggerus kualitas pembelajaran dan kapasitas berpikir kritis mahasiswa.