Permainan Tradisional Kembali Bersinar Lewat Acara JENTARA Universitas Widya Mataram
Di tengah kemajuan pesat modernisasi dan teknologi digital, permainan tradisional Indonesia mulai tergeser dari kehidupan anak-anak. Sebagai bentuk kepedulian serta implementasi ilmu yang dipelajari,...
Di tengah kemajuan pesat modernisasi dan teknologi digital, permainan tradisional Indonesia mulai tergeser dari kehidupan anak-anak. Sebagai bentuk kepedulian serta implementasi ilmu yang dipelajari, mahasiswa mata kuliah Manajemen Event Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Widya Mataram Yogyakarta menggelar acara bernama “JENTARA (Jejak Nusantara Traditional Arena)”.
Kegiatan ini merupakan upaya nyata untuk melestarikan dan memperkenalkan kembali kekayaan budaya permainan tradisional kepada generasi muda, khususnya siswa sekolah dasar, mahasiswa, dan masyarakat luas. Acara JENTARA dibuka oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Widya Mataram, Dr. As. Martadani Noor, M.A.
Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa pelaksanaan acara ini menjadi wadah yang tepat untuk memperkenalkan permainan tradisional sekaligus menjadi ajang nostalgia bagi masyarakat dan mahasiswa terkait permainan tradisional tersebut. “Acara seperti ini sangat penting untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya kita.
Permainan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur seperti kerjasama, kejujuran, dan sportivitas,” ujar Dr. As. Martadani Noor. Beliau juga menyampaikan harapan agar acara ini dapat diadakan kembali dengan cakupan peserta yang lebih luas, termasuk siswa sekolah menengah atas, sehingga dapat menjadi sarana promosi kampus sekaligus memperluas jangkauan pelestarian budaya.
JENTARA yang menjadi bagian dari Banyuraden Art Festival#2 menghadirkan konsep pelestarian permainan tradisional dengan beberapa sub acara, di antaranya adalah lomba permainan tradisional. Lomba ini diikuti oleh siswa dari 4 sekolah dasar di Kelurahan Banyuraden.
Setiap sekolah mengirimkan 10 anak untuk mengikuti berbagai cabang lomba permainan tradisional, antara lain: kelereng individu yang menguji ketangkasan dan konsentrasi, egrang yang melatih keseimbangan dan keberanian, bakiak yang mengajarkan kekompakan serta kerja sama tim, lempar kolong yang mengasah ketepatan dan strategi, dan benthik yang membangun kecepatan reaksi serta kerja sama.
Kelima permainan tersebut dipilih sebagai bentuk komitmen panitia tidak hanya untuk mengenalkan permainan tradisional, tetapi juga untuk memberikan pemahaman tentang konsep kerja sama dan strategi yang tepat dalam kehidupan bermasyarakat. Lomba ini mendapatkan antusiasme yang tinggi tidak hanya dari pihak sekolah dasar, tetapi juga masyarakat umum yang datang menyaksikannya.
Hasilnya, SD N Banyuraden meraih juara umum pertama, diikuti oleh SD N Kanoman sebagai juara kedua, SD Muhammadiyah Banyuraden sebagai juara ketiga, dan SD N Patran sebagai juara keempat. Selanjutnya, diadakan kegiatan peluncuran majalah KOMA#2 yang mengambil tema Kelurahan Banyuraden dan permainan tradisional. Majalah ini merupakan karya tulisan yang berkaitan dengan tema utama Jentara tentang permainan tradisional.
Beberapa rubrik menarik yang disajikan di dalamnya antara lain:
– Sejarah dan filosofi permainan tradisional Nusantara
– Data dan dokumentasi permainan tradisional di Yogyakarta
– Profil kebudayaan Kelurahan Banyuraden
– Wawancara dengan tokoh budaya dan pelaku pelestarian permainan tradisional
– Liputan mendalam tentang nilai-nilai edukatif dalam permainan tradisional Majalah ini tidak hanya tersedia dalam bentuk cetak, tetapi juga versi digital yang dapat diakses melalui kode QR yang disediakan di lokasi acara.
Inovasi ini memudahkan mahasiswa, peserta, dan masyarakat umum untuk mengakses informasi tentang permainan tradisional kapan saja dan di mana saja. Sebelum memasuki sesi sarasehan, para hadirin disuguhkan penampilan Tari Golek Ayun-Ayun yang diperagakan oleh penari dari sanggar tari lokal Kanoman, Atika Zahra Garnis Ratifa.
Tarian tradisional Jawa ini menggambarkan keanggunan dan kelembutan seorang putri yang sedang berdandan di depan cermin. Golek Ayun-Ayun merupakan tarian klasik gaya Yogyakarta yang menampilkan gerakan lemah gemulai dengan ayunan tubuh yang khas. Tarian ini menyimpan makna filosofis tentang kesabaran, ketelitian, dan keindahan dalam setiap aspek kehidupan.
Melalui penampilan ini, panitia ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya terbatas pada permainan tradisional, tetapi juga mencakup seni tari yang merupakan bagian tak terpisahkan dari khazanah budaya Nusantara. Sesi terakhir adalah Sarasehan Budaya bertajuk Sibujo (Sinau Budoyo Jowo) dengan tema pelestarian permainan tradisional.
Narasumber dari KORMI DIY, Drs. Nuri Hartana, dalam materinya menjelaskan bagaimana permainan tradisional mencerminkan kehidupan masyarakat, karena di dalamnya terkandung kerja sama, kreativitas, dan komunikasi yang terbangun. Acara ini menjadi wadah yang tepat untuk memperkenalkan permainan tradisional sebagai hasil dari perlombaan yang telah diselenggarakan.
Setelah sarasehan budaya, acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba permainan tradisional. Berdasarkan penilaian ketat dari dewan juri, hasilnya adalah sebagai berikut:
– Juara Umum Pertama: SD N Banyuraden
– Juara Umum Kedua: SD N Kanoman
– Juara Umum Ketiga: SD Muhammadiyah Banyuraden
– Juara Umum Keempat: SD N Patran Setiap pemenang menerima piala, uang pembinaan, sertifikat, dan hadiah sebagai apresiasi atas partisipasi dan prestasi yang diraih.
Suasana gembira dan haru terpancar dari wajah para peserta, guru pendamping, dan orang tua yang hadir. Kegiatan JENTARA (Jejak Nusantara Traditional Arena) yang diselenggarakan oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Widya Mataram membuktikan bahwa generasi muda memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pelestarian budaya bangsa.
Melalui pendekatan kreatif dan inovatif, permainan tradisional dapat disajikan sebagai kegiatan yang menarik dan relevan bagi anak-anak di era digital. Acara ini juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga budaya, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk dunia pendidikan.
Kolaborasi antara universitas, sekolah dasar, dan masyarakat Kelurahan Banyuraden dalam acara ini menjadi contoh baik bagaimana gotong royong dapat mewujudkan pelestarian budaya yang berkelanjutan. Ketua Pelaksana acara, Rebaudhy Mahardhika Pamungkas, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya acara ini.
“Kami berharap JENTARA dapat menjadi kegiatan rutin yang terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi pelestarian permainan tradisional di Indonesia. Mari kita jaga warisan budaya kita bersama-sama,” ujarnya. Dengan semangat melestarikan budaya dan menghadapi tantangan modernisasi, JENTARA meninggalkan jejak bermakna bagi semua pihak yang terlibat. Acara ini membuktikan bahwa permainan tradisional masih memiliki tempat khusus di hati anak-anak Indonesia, dan dengan upaya yang tepat, warisan budaya ini dapat terus hidup dan berkembang di tengah kemajuan zaman.
Penulis: Nabila Rahma Hidayat