Apa Alasan Utama Gen Z Tidak Melanjutkan Kuliah?
Pendidikan menjadi pilar utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Melalui proses pendidikan, generasi muda tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga keterampilan...
Pendidikan menjadi pilar utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Melalui proses pendidikan, generasi muda tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga keterampilan serta pembentukan karakter yang dibutuhkan untuk menghadapi berbagai tantangan di era modern. Tanpa kualitas pendidikan yang memadai, langkah suatu negara menuju kemajuan tentu akan terhambat.
Kabar baiknya, kini kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pentingnya pendidikan kian meningkat. Hal ini tercermin dari tren lulusan perguruan tinggi yang terus naik dalam satu dekade terakhir. Fenomena tersebut dapat dipandang sebagai sinyal positif atas perkembangan kualitas pendidikan nasional.
Dengan semakin banyaknya penduduk yang berpendidikan tinggi, harapannya sebuah negara dapat bersaing dan beradaptasi di tengah dinamika global yang kompleks. Pendidikan yang kuat juga berperan dalam melahirkan generasi penerus yang mampu berinovasi, memiliki jiwa kepemimpinan, serta membawa perubahan yang konstruktif bagi kemajuan bangsa.
Namun, Indonesia masih dihadapkan pada tantangan besar dalam memastikan akses pemerataan ke pendidikan tinggi bagi seluruh lapisan masyarakat. Tidak sedikit anak muda yang memiliki potensi besar dan berkeinginan untuk kuliah tetapi terpaksa mengubur mimpinya karena terkendala banyak hal.
Berdasarkan Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey yang dilakukan pada akhir 2024 dan diantaranya melibatkan 14.751 responden Gen Z dari 44 negara, terdapat beberapa alasan mengapa generasi muda memilih tidak melanjutkan pendidikan tinggi, yakni sebagai berikut:
- Kendala finansial (39%)
- Masalah keluarga atau pribadi (34%)
- Keinginan untuk fleksibel (26%)
- Memilih berkarir tanpa gelar (25%)
- Kurang berminat (21%)
- Khawatir beban pinjaman (21%)
- Berencana untuk berwirausaha (19%)
- Merasa bisa belajar sendiri (16%)
Salah satu upaya dalam menjawab permasalahan tersebut khususnya kendala utama yakni faktor finansial, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI terus menaikkan besaran anggaran beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dari tahun ke tahun. Pada tahun anggaran 2026 ini, alokasi anggaran KIP Kuliah berdasarkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) naik menjadi Rp15.323.650.458.000 dengan sasaran penerima sebanyak 1.047.221 mahasiswa.