Mahasiswa Juga Perlu Jeda: Mengapa Self-Care Tidak Bisa Diabaikan
Self-care menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa di tengah padatnya tuntutan akademik dan tekanan sosial. Aktivitas perkuliahan yang diiringi tugas, ujian, organisasi, hingga ekspektasi lingkungan...
Self-care menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa di tengah padatnya tuntutan akademik dan tekanan sosial. Aktivitas perkuliahan yang diiringi tugas, ujian, organisasi, hingga ekspektasi lingkungan sering kali membuat mahasiswa lupa memperhatikan kesehatan diri sendiri.
Padahal, merawat diri bukanlah bentuk kemalasan, melainkan upaya sadar untuk menjaga keseimbangan mental dan emosional agar tetap berfungsi secara optimal.Pentingnya self-care bagi kesehatan mental mahasiswa tidak dapat dipisahkan dari upaya mengurangi stres dan mencegah burnout.
Tekanan akademik yang berlangsung terus-menerus dapat memicu kelelahan fisik dan mental jika tidak dikelola dengan baik. Dengan menerapkan self-care secara proaktif, mahasiswa dapat menjaga kestabilan pikiran dan tubuh agar tidak mudah jatuh pada kondisi kelelahan ekstrem.Selain itu, self-care juga berperan dalam meningkatkan kinerja akademik.
Mahasiswa yang memiliki waktu tidur cukup, pola makan bergizi, dan tubuh yang terawat cenderung memiliki konsentrasi lebih baik saat belajar. Kondisi fisik dan mental yang seimbang membantu mahasiswa menyerap materi perkuliahan secara optimal serta meningkatkan produktivitas dalam menyelesaikan tugas.
Self-care juga menjadi sarana penting dalam mengelola kesehatan emosional. Perasaan kesepian, cemas, hingga kehilangan motivasi sering dialami mahasiswa, terutama mereka yang merantau jauh dari keluarga. Dengan memberi ruang untuk memahami dan menerima emosi diri, mahasiswa dapat lebih bijak dalam menghadapi tekanan emosional tanpa memendamnya terlalu lama.
Lebih jauh, praktik self-care membantu membangun resiliensi atau ketangguhan mental. Mahasiswa yang terbiasa merawat kesehatan mentalnya akan lebih siap menghadapi kegagalan, kritik, maupun tantangan akademik dan personal. Resiliensi ini membuat mahasiswa tidak mudah menyerah dan mampu bangkit kembali ketika menghadapi situasi sulit.
Namun, realitas tekanan yang dihadapi mahasiswa sering kali cukup kompleks. Beban tugas dan deadline yang menumpuk dapat memicu stres kronis jika tidak diimbangi dengan manajemen waktu yang baik. Kondisi ini kerap membuat mahasiswa terjebak dalam pola belajar berlebihan tanpa jeda istirahat yang memadai.
Tekanan sosial juga menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Ekspektasi untuk aktif berorganisasi, memiliki kehidupan sosial yang aktif, serta fenomena FOMO (Fear of Missing Out) dapat memicu rasa cemas dan kelelahan mental. Mahasiswa sering merasa harus selalu hadir dan terlibat dalam banyak kegiatan, meskipun kondisi dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Di sisi lain, kemajuan teknologi turut berkontribusi pada meningkatnya stres. Keterhubungan digital yang konstan melalui media sosial dan notifikasi membuat mahasiswa sulit beristirahat secara mental. Oleh karena itu, membatasi waktu layar dan melakukan digital detox menjadi bagian penting dari self-care di era modern.
Sebagai langkah praktis, mahasiswa dapat menerapkan self-care melalui rutinitas fisik seperti tidur teratur, makan bergizi, dan olahraga ringan. Manajemen waktu yang baik, menetapkan batasan, serta berani berkata “tidak” pada kegiatan berlebihan juga sangat penting.
Tak kalah penting, meluangkan waktu untuk hobi, relaksasi, dan bersikap penuh kasih pada diri sendiri (self-compassion) membantu mahasiswa menerima kekurangan dan menjalani proses perkuliahan dengan lebih sehat dan seimbang.
Penulis: Nabila Rahma Hidayat