Mahasiswa ITB Ubah Limbah Sawit Jadi Pupuk Organik Cair Berkelanjutan
Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tergabung dalam Tim Althara berhasil mengubah isu lingkungan menjadi solusi pertanian berkelanjutan melalui inovasi pupuk organik cair berbasis...
Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tergabung dalam Tim Althara berhasil mengubah isu lingkungan menjadi solusi pertanian berkelanjutan melalui inovasi pupuk organik cair berbasis limbah cair kelapa sawit. Inovasi ini mereka lombakan dalam ajang karya tulis ilmiah Festival Engineering Api Biru (FEAB) 2025 di Jakarta.
Tim Althara terdiri dari:
- Agnes Ruth Savira
- Maritza Kayla Zasky Malikha
- Naveed Muhammad Falah Brahmantika
Ketiganya merupakan mahasiswa Program Studi Teknologi Pascapanen ITB.
Limbah Sawit Disulap Jadi Biofertilizer
Dengan mengusung tema besar “Akselerasi Indonesia Impact”, Tim Althara menjawab tantangan pengelolaan limbah industri sawit yang selama ini dikenal masif dan berpotensi mencemari lingkungan. Mereka memanfaatkan limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) melalui proses fermentasi mikrobiologis untuk menghasilkan biofertilizer bernilai tambah.
POME yang kerap menjadi masalah lingkungan tersebut diolah menjadi pupuk organik cair dengan keunggulan utama, yaitu mampu meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus memberikan proteksi alami terhadap hama, khususnya pada komoditas Tomat Momotaro.
“Tomat Momotaro adalah komoditas bernilai tinggi yang membutuhkan pupuk berkualitas. Melalui inovasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa sesuatu yang dianggap limbah bisa berubah menjadi harapan, baik bagi petani sawit maupun petani hortikultura,” ujar Naveed mewakili tim yang terinspirasi dari kunjungan ke Mujagi Farm, Cianjur.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Inovasi pupuk fermentasi dari limbah sawit ini dinilai memiliki peluang besar untuk diterapkan secara luas. Dari sisi pertanian, penggunaan pupuk organik cair ini berpotensi menekan ketergantungan petani terhadap pupuk kimia dan pestisida sintetis.
Sementara dari sisi lingkungan, solusi ini menjadi contoh nyata penerapan konsep ekonomi sirkular, di mana limbah industri perkebunan dapat diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat bagi sektor pertanian lainnya. Sinergi antara perkebunan sawit dan hortikultura ini diharapkan mampu memperkuat daya saing produk hortikultura Indonesia di pasar global.
Harapan Tim Althara
Bagi Tim Althara, keberhasilan di FEAB 2025 bukanlah titik akhir. Mereka justru melihatnya sebagai awal untuk mengembangkan inovasi ini agar dapat diterapkan secara nyata di lapangan, bahkan membuka peluang komersialisasi hingga ekspor produk hortikultura premium Indonesia.

“Pelajaran berharga yang kami dapat adalah jangan mudah menyerah. Justru dari tantangan, lahir peluang untuk berinovasi. Semoga pengalaman ini bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani melangkah, mencoba, dan berkolaborasi demi memberi dampak positif bagi masyarakat,” ujarnya.
Final FEAB 2025 sendiri digelar pada 7 Juli 2025 di Jakarta, dengan malam penganugerahan pada 17 Juli 2025. Melalui karya ini, Tim Althara tidak hanya meraih prestasi, tetapi juga menunjukkan bahwa masa depan pertanian Indonesia dapat dibangun melalui keberanian untuk mengubah limbah menjadi harapan.