Kuliah di Tengah Serangan Israel, 230 Mahasiswa Kedokteran Gaza Wisuda di Reruntuhan RS
Potret para wisudawati Kedokteran Gaza pada prosesi wisuda(dok. Aljarmaq News)
Sekitar 230 mahasiswa Kedokteran di Gaza, Palestina, resmi diwisuda di tengah gempuran genosida yang telah berlangsung selama dua tahun. Prosesi wisuda tersebut digelar pada 3 Januari 2026, berlokasi di antara reruntuhan Rumah Sakit Al-Shifa yang hancur akibat serangan bom Israel.
Dalam suasana yang jauh dari kata normal, para lulusan menyebut diri mereka sebagai “Phoenix”, simbol kebangkitan, ketahanan, dan tekad untuk tetap hidup serta mengabdi di tengah kehancuran. Momentum wisuda itu juga menjadi ikrar para lulusan untuk melanjutkan estafet pelayanan kesehatan, di tengah kondisi di mana ratusan tenaga medis di Gaza diculik atau menjadi korban serangan Israel.
Kuliah di Tengah Krisis Kemanusiaan
Berbeda dengan mahasiswa Kedokteran di banyak negara lain, para lulusan di Gaza menjalani perkuliahan dengan akses listrik dan internet yang sangat terbatas. Bahkan, tidak jarang mereka harus menangani korban serangan Israel di sela-sela kegiatan akademik.

(dok. Aljarmaq News)
Kondisi ini terjadi akibat krisis tenaga kesehatan yang semakin parah, menyusul penculikan serta gugurnya banyak dokter dan perawat dalam konflik yang terus berlangsung. Sejumlah wisudawan juga harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan anggota keluarga mereka sendiri, namun tetap bertahan hingga menyandang gelar dokter.
Salah satu wisudawan, Izzedien Lulu, menceritakan bagaimana kehidupan akademik mereka berubah total saat kondisi darurat melanda Gaza.
“Kami terjebak di dalam ruang gawat darurat. Dengan satu tangan kami berusaha merawat luka-luka para korban. Sementara dengan tangan yang lain kami berjuang untuk tetap berdiri tegak dan menguatkan diri sendiri,” ungkapnya dalam sambutan atas nama wisudawan, dikutip dari unggahan akun Instagram @ajplus, Kamis (8/1/2026).
Luka, Kehilangan, dan Keteguhan
Dalam pidatonya, Izzedien juga mengenang momen paling menghancurkan dalam hidupnya yang terjadi saat ia masih bertugas di unit gawat darurat.
“Pada saat itu, di dalam unit gawat darurat, aku menerima berita yang paling menghancurkan hatiku. Dua puluh anggota keluargaku meninggal dunia dalam satu waktu. Di dalamnya terdapat ayahku yang badannya tertimbun reruntuhan,” kenangnya.
Ia menegaskan bahwa kisah tersebut bukan hanya miliknya, melainkan cerminan dari pengalaman kolektif para wisudawan Kedokteran Gaza.
“Setiap dari kami memiliki pengalaman kehilangan dan duka, serta luka yang kami pelajari untuk kami simpan agar dapat terus melanjutkan perjalanan,” ujarnya.
Menurutnya, situasi ekstrem yang mereka hadapi telah membentuk pemahaman baru tentang makna menjadi seorang dokter.
“Di sinilah kami belajar bahwa seorang dokter tidak hanya diukur dari pengetahuan yang dimilikinya, tetapi juga dari kesabaran yang ia bawa, serta kemampuannya untuk tetap berdiri dan menjalankan tugas, bahkan ketika keadaan di sekelilingnya runtuh,” pungkasnya.
Sebagai catatan, sejak Oktober 2023, Israel dilaporkan telah membunuh sedikitnya 1.722 tenaga kesehatan di Gaza. Di tengah krisis kemanusiaan tersebut, kelulusan ratusan dokter muda ini menjadi simbol ketahanan sekaligus harapan bagi masa depan layanan kesehatan Palestina.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!