Kenapa Banyak Mahasiswa Kelelahan Ekstrem? Ini Penyebab dan Cara Atasi Burnout!
Burnout mahasiswa udah jadi fenomena yang makin sering muncul di kampus-kampus sekarang. Ada banyak faktor yang bikin banyak mahasiswa ngalamin kelelahan fisik dan mental yang berkepanjangan – mulai...
Burnout mahasiswa udah jadi fenomena yang makin sering muncul di kampus-kampus sekarang. Ada banyak faktor yang bikin banyak mahasiswa ngalamin kelelahan fisik dan mental yang berkepanjangan – mulai dari tekanan akademik yang tinggi, tuntutan dari organisasi, sampe masalah pribadi yang mengganggu. Masalahnya, kondisi ini seringkali luput dari perhatian karena dianggap cuma bagian biasa dari kehidupan kuliah.
Secara umum, burnout pada mahasiswa itu adalah kondisi kelelahan ekstrem yang nyentuh tiga aspek sekaligus: fisik, emosional, dan mental. Beda sama stres biasa yang bisa hilang dengan istirahat sebentar, burnout gak bisa semudah itu. Mahasiswa yang alamin ini biasanya bakal kehilangan semangat belajar, merasa tidak berdaya, dan mulai meragukan kemampuan diri mereka sendiri.
Gejala burnout bisa terlihat dari berbagai sisi. Dari segi fisik aja, banyak yang merasa lelah terus padahal belum banyak melakukan aktivitas berat, sering sakit kepala, kesulitan tidur, atau bahkan nafsu makannya jadi berubah. Sedangkan dari sisi emosional, muncul perasaan mudah marah, terlalu cemas, merasa hampa, bahkan jadi sinis sama segala hal yang berkaitan sama dunia perkuliahan.
Kalau dari sisi mental, tanda-tandanya juga jelas banget – susah konsentrasi, produktivitas jadi menurun, dan merasa tidak efektif ketika harus ngurus tugas kuliah. Akibatnya, banyak yang jadi suka menunda-nunda pekerjaan (prokrastinasi), menghindari tanggung jawab akademik, sering bolos kuliah, bahkan mulai menarik diri dari hubungan sosial yang ada.
Penyebab burnout pada mahasiswa memang beragam banget, tapi yang paling dominan tetap aja tuntutan akademik. Tugas yang terus menumpuk, jadwal kuliah yang padat banget, sampe tekanan buat selalu bisa berprestasi bikin mahasiswa harus berada di lingkungan yang kompetitif dan bikin capek. Kondisi ini jadi lebih parah terutama ketika mereka masuk fase akhir studi, kayak saat bikin skripsi atau tugas akhir.

Selain faktor akademik, tekanan dari dalam diri sendiri juga punya peran besar. Sikap perfeksionis, ekspektasi diri yang terlalu tinggi, sampe kebiasaan membandingin pencapaian diri sama orang lain di media sosial sering bikin rasa tidak puas dan frustrasi. Tanpa kita sadari, hal-hal kecil ini bisa banget menguras energi emosional kita sebagai mahasiswa.
Tidak cuma itu, tekanan dari luar juga turut memperbesar risiko terjadinya burnout. Misalnya aja keterbatasan waktu buat ngurus segala hal, harus kerja paruh waktu, atau kurangnya dukungan dari keluarga dan teman-teman. Mahasiswa yang kesulitan nyari keseimbangan antara kuliah, organisasi, dan kehidupan pribadi sangat rentan merasa kewalahan dan kehilangan kendali atas hidup mereka sendiri.
Untuk mengatasinya, langkah pertama yang bisa dilakukan mahasiswa adalah mengelola diri dengan baik. Mulai dari ngatur jadwal dan prioritas tugas dengan cara yang realistis, menjaga pola tidur yang cukup, makan makanan yang sehat, sampe rutin berolahraga – semua itu bisa membantu kita pulihkan energi fisik dan mental. Jangan lupa juga luangkan waktu buat hobi kesukaan kita, karena itu bisa jadi cara relaksasi yang efektif banget.
Dukungan dari orang sekitar juga tidak kalah penting dalam proses pemulihan. Coba ceritain masalah yang kamu rasain sama teman dekat, keluarga, atau dosen pembimbing – biasanya itu bisa bikin beban pikiran jadi lebih ringan. Kalau kondisi udah mulai terasa berat dan sulit diatasi sendiri, jangan sungkan buat cari bantuan dari konselor atau psikolog kampus. Itu adalah langkah bijak yang tidak perlu ditunda-tunda.
Kita perlu paham bahwa burnout pada mahasiswa bukanlah tanda bahwa kita lemah. Justru, itu adalah sinyal dari tubuh dan pikiran kita bahwa mereka butuh perhatian lebih. Dengan kesadaran yang cukup, dukungan yang tepat, dan strategi penanganan yang benar, kita sebagai mahasiswa bisa bangkit kembali dan menjalani masa kuliah dengan cara yang lebih sehat, seimbang, dan tentunya lebih bermakna.
Penulis: Nabila Rahma Hidayat
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!