Peluang Kerja 2025: Lulusan Pascasarjana Justru Paling Pesimis
Persepsi masyarakat terhadap kondisi lapangan kerja di Indonesia kembali menjadi perhatian. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis Bank Indonesia dan dirangkum oleh GoodStats, survei pada November...
Persepsi masyarakat terhadap kondisi lapangan kerja di Indonesia kembali menjadi perhatian. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis Bank Indonesia dan dirangkum oleh GoodStats, survei pada November 2025 memperlihatkan adanya perbedaan pandangan publik terkait peluang kerja, terutama jika dilihat dari latar belakang pendidikan dan kelompok usia.
Table Of Content
Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) digunakan sebagai indikator untuk mengukur tingkat keyakinan masyarakat terhadap jumlah dan ketersediaan pekerjaan. Nilai indeks di atas angka 100 menandakan optimisme, sedangkan skor di bawahnya menunjukkan adanya kekhawatiran.
Pandangan Lulusan SMA hingga Sarjana terhadap Lapangan Kerja

Hasil survei menunjukkan bahwa lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) berada pada posisi yang relatif stabil. Pandangan kelompok ini terhadap peluang kerja tidak lagi sepesimis bulan sebelumnya, meski belum sepenuhnya optimis.
Sementara itu, lulusan diploma atau akademi justru menunjukkan keyakinan yang lebih kuat terhadap kondisi pasar kerja. Pendidikan vokasi masih dinilai memiliki keterkaitan yang cukup baik dengan kebutuhan dunia industri saat ini.
Optimisme juga terlihat pada lulusan sarjana. Meski terjadi sedikit penurunan dibanding periode sebelumnya, kelompok ini masih menilai peluang kerja terbuka, khususnya bagi mereka yang memiliki keterampilan tambahan di luar kemampuan akademik.
Lulusan Pascasarjana Paling Merasa Khawatir
Berbeda dengan jenjang pendidikan lainnya, lulusan pascasarjana justru menjadi kelompok yang paling menunjukkan kekhawatiran. Nilai IKLK mereka turun ke bawah batas optimisme, menjadikan kelompok ini satu-satunya yang berada di zona pesimis.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa tingginya tingkat pendidikan tidak selalu menjamin rasa aman di pasar kerja. Persaingan ketat serta terbatasnya posisi yang sesuai dengan kualifikasi menjadi tantangan tersendiri bagi lulusan pascasarjana.
Usia Muda Lebih Optimis Hadapi Dunia Kerja
Dari sisi usia, kelompok masyarakat berusia 20–30 tahun menjadi yang paling optimis. Kelompok ini umumnya terdiri dari mahasiswa tingkat akhir dan lulusan baru yang masih aktif mencari serta mencoba berbagai peluang kerja.
Optimisme tersebut cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Kelompok usia 31–40 tahun dan 41–50 tahun masih berada di zona positif, namun nilainya terus mengalami penurunan. Sementara itu, kelompok usia di atas 50 tahun cenderung memandang kondisi lapangan kerja secara lebih pesimis.
Temuan ini menegaskan bahwa faktor usia masih menjadi salah satu hambatan utama dalam dunia ketenagakerjaan di Indonesia, terutama bagi mereka yang berada di usia lanjut.
Catatan Penting bagi Mahasiswa
Bagi mahasiswa dan lulusan baru, hasil survei ini menjadi pengingat bahwa peluang kerja masih terbuka lebar di usia muda. Namun, tingginya tingkat pendidikan saja tidak cukup untuk menjamin keamanan karier di masa depan.
Penguasaan keterampilan praktis, pengalaman magang, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan dunia kerja menjadi faktor penting agar mahasiswa tetap kompetitif setelah lulus dan siap menghadapi persaingan di pasar kerja.