Universitas Gadjah Mada kembali mencatat sejarah penting. Prof. Nurul Indarti resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM. Pengukuhan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga menjadi simbol kemajuan peran perempuan dalam dunia akademik.
Table Of Content
Dengan pengukuhan ini, Prof. Nurul menjadi guru besar perempuan pertama di bidang manajemen di UGM sekaligus satu-satunya guru besar perempuan di FEB UGM saat ini.
Bukan Sekadar Gelar, Tapi Amanah
Bagi Prof. Nurul, gelar guru besar bukan tujuan akhir. Ia memaknainya sebagai amanah akademik yang harus dijalankan dengan tanggung jawab lebih besar, baik dalam pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Sejak dikukuhkan pada usia relatif muda, Prof. Nurul berkomitmen untuk terus memproduksi pengetahuan, membagikannya melalui pengajaran, serta memastikan ilmu yang dikembangkan dapat memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Mengangkat Suara dari Pinggiran
Di dunia kewirausahaan yang sering didominasi oleh kelompok arus utama, Prof. Nurul justru memilih melihat dari sudut yang jarang disorot. Fokus risetnya berada pada kewirausahaan perempuan, etnis, dan sosial.
Menurutnya, banyak pelaku usaha dari kelompok marjinal menghadapi hambatan struktural dan kultural, mulai dari bias gender, keterbatasan akses modal, hingga minimnya jejaring bisnis.
- Perempuan wirausaha
- Kelompok etnis minoritas
- Penyandang disabilitas
- Masyarakat dengan latar belakang ekonomi rendah
- Akses terbatas ke modal usaha
- Minim jejaring dan mentor
- Hambatan budaya dan sosial
- Kurangnya dukungan kebijakan
Lewat riset dan pengajarannya, Prof. Nurul mendorong agar kewirausahaan dipahami bukan hanya sebagai alat ekonomi, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan sosial.
Dari Kampus untuk Dampak Nyata
Kontribusi Prof. Nurul tidak berhenti di ruang kelas. Ia aktif dalam pengembangan kurikulum kewirausahaan yang kini menjadi mata kuliah wajib di Program Sarjana Manajemen FEB UGM.
Di tingkat magister, ia turut mengembangkan konsentrasi kewirausahaan serta menginisiasi kurikulum keberlanjutan pada program Master in Sustainability Development and Management (MASUDEM).
Catatan Mahasiswa: Kampus bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga ruang untuk membentuk kepekaan sosial dan keberpihakan pada nilai kemanusiaan.
Pelajaran dari Perjalanan Akademik
Menariknya, Prof. Nurul mengaku sempat meremehkan masa kuliahnya. Latar belakang IPA membuatnya mengira studi sosial akan mudah. Kenyataannya, ia harus belajar menghargai proses dan disiplin akademik.
Dari pengalaman tersebut, ia menegaskan satu pesan penting bagi mahasiswa: ilmu tidak bisa ditaklukkan dengan sikap arogan. Kesungguhan dan konsistensi adalah kunci.
Selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Perjalanan dan kontribusi Prof. Nurul Indarti sejalan dengan nilai-nilai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang kini menjadi agenda global.
- SDG 4 – Pendidikan Berkualitas: Pendidikan tinggi yang kritis, kontekstual, dan berdampak.
- SDG 5 – Kesetaraan Gender: Peran perempuan dalam kepemimpinan akademik.
- SDG 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi: Kewirausahaan inklusif.
- SDG 10 – Berkurangnya Kesenjangan: Keberpihakan pada kelompok marjinal.
Inspirasi untuk Mahasiswa
Kisah Prof. Nurul Indarti memberi pesan kuat bahwa dunia akademik bukan menara gading. Ia adalah ruang perjuangan, pembelajaran, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Bagi mahasiswa, perjalanan ini menjadi pengingat bahwa prestasi akademik terbaik lahir dari konsistensi, kerendahan hati, dan keberanian untuk berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!